Madrosah Al-Muhith Yogyakarta: Sebuah Sejarah Singkat

FB_IMG_15231628114286878.jpg

Bagi saya, seperti halnya kemarin, pagi ini adalah pagi yang sehat. Seperti halnya pagi kemarin, Minggu pagi ini saya banyak melakukan aktifitas yang bermanfaat. Mulai dari bangun pagi, kemudian sholat subuh beserta sunnah dan dzikirnya, kemudian membersihkan madrosah, menyapu lantai dan halamannya. Dan, tak lupa setelah itu mempersiapkan sarapan pagi. Ya, ini adalah kehidupan yang akhir-akhir ini saya jalani di madrosah Al-Muhith Yogyakarta. Setelah lulus kuliah ini, sembari mempersiapkan agenda ke depan mau membuat karya dan melanjutkan cita-cita untuk bisa studi abroad, saya mengoptimalkan segala daya di sini. Daya duniawi atau pun ukhrowi. Seperti kata Cak Nun, di tempat ini cocok untuk melakukan proses transformasi, mediasi dan meditasi untuk berkomunikasi dengan sang maha kuasa.

Tulisan ini, akan berbagi cerita tentang sedikit perkembangan Madrosah Al-Muhith Yogyakarta. Madrosah ini adalah madrosah yang didirikan oleh Prof. Subandi, MA, P.hD pada awal tahun 2014. Pada awalnya madrosah ini dibangun sebagai rumah biasa. Tidak memperlihatkan arsitektur madrosah di dalamnya. Tetapi kemudian dalam jangka waktu empat tahun sudah berkembang menjadi madrosah. Ya, pada kira-kira tahun 2014, madrosah Al-Muhith masih berupa kontruksi rumah pribadi namun diisi dengan kegiatan-kegiatan mengaji seperti madrosah. Tetapi setelah memasuki tahun 2016 awal, kemudian diberi nama Al-Muhith oleh Syeikh Muhammad Abdul Gaos SM ra qs (Abah Aos), guru beliau di Ciamis.

Pada tahun 2015, madrosah ini sudah mempunyai lima kamar (hujroh). Tetapi, belum ada tempat khusus untuk mengaji. Pengajian masih sering dilakukan di dalam rumah. Sementara itu, sudah ada ruang di belakang rumah tetapi masih agak kecil, selebar 4×3 meter yang difungsikan sebagai musholla dan juga tempat mengaji dan berdzikir. Karena semakin hari semakin bertambah orang yang berminat mengaji dan belajar dzikir di sini, maka musholla ini pun diperluas. Sejak kira-kira 2016 madrosah diperluas jadi 9×3 meter. Bentuknya persegi panjang. Bangunan ini masih bertahan sampai pada 2018.

Pendiri madrosah Al-Muhith Yogyakarta ini, Prof. Subandi, MA, P.hD adalah guru besar di fakultas psikologi UGM, dan juga wakil talqin Abah Aos. Diangkat jadi guru besar UGM kira-kira tahun 2013 setelah selesai umroh ke tanah suci pada tahun tersebut. Beliau menempuh pendidikan S1 di UGM di Jurusan Psikologi. Lalu, mendapatkan kesempatan untuk menjalani studi di bidang yang sama di University of Adelaide di Australia. Setelah lulus dan mendapatkan gelar master of art, karirnya terus berlanjut di univeritas yang sama sampai s3. Beliau adalah psikolog sekaligus ahli dalam pengobatan rehabilitasi mentalitas.

Dilihat dari sepak terjang karirnya, beliau selain aktif dalam dunia akademik, produktif menulis di jurnal kampus maupun nasional, dan internasional, juga berkiprah di API (Asosiasi Psikologi Islami) dan pernah menjadi ketua umum. Membawa nama kampus, beliau juga menjalin kerja sama akademik dengan Hardvard University, USA. Hasrat menekuni bidang mentalitas, kejiwaan, dan segudang topik pengembangan diri sudah dijalani sejak masih kuliah di S1. Malahan, beliau sudah terjun dalam dunia sufisme dan praktiknya dengan belajar berthoriqoh kepada Abah Anom di Tasikmalaya. Mulai dari sejak 1980 hingga saat ini, beliau sudah punya banyak jam terbang dalam bidang pengobatan kejiwaan baik itu di lembaga Inabah atau lembaga kesehatan mentalitas lainnya. Bekerja sama juga dengan pihak Lapas yang sekaligus menjadi lapangan pengembangan risetnya.

Nah, di madrosah sini, saya tidak tinggal sendirian, melainkan bersama ketujuh teman saya yang berasal dari berbagai latar belakang intelektual, geografis, etnis dan kultural. Ada dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jambi, Padang, dan ada juga dari Palestina. Semenara dahulu lebih beragam lagi. Dan apalagi di group Whatsap yang kira-kira sekarang ini sudah ada sekitar lima puluh ikhwan di dalamnya. Kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan motivasi ruhani agar semangat beribadah, dilakukan seminggu sekali yaitu khotaman berjama’ah. Dan ada juga yang sebulan sekali yaitu manaqiban.

Kedua agenda itu adalah agenda yang penting dan juga merupakan agenda besar Syeikh Muhammad Abdul Gaos yang senantiasa istiqomah dilaksanakan. Tidak hanya di Yogyakarta ini, melainkan di segala titik dimana ikhwan TQN berada. Baik di Indonesia maupun mancanegara. Di Yogyakarta sendiri telah ada tiga wakil talqin Abah Aos, satu, prof. Subandi, dua prof. Heddy Shri Ahimsa Putra yang merupakan guru besar di Fakultas Ilmu Budaya, UGM dan kyai Muhammad Yusuf Kunto Pujasmedi, muballigh dan da’i dari Lampung yang kemudian berkiprah juga di Yogyakarta.

Ketiga tokoh tersebut juga sebagai pendiri Yayasan Menoreh Kesucian Jiwa, Yogyakarta, bersama dengan Subhan Djubaedi, seorang master hipnoterapis Indonesia, sekaligus kandidat doktor di UMY, Fani Irfan Hidayat, Handika dan Riana Al-Faruq. Demikian lah sekilas info tentang madrosah Al-Muhith Yogyakarta. Madrosah yang menjadi tempat bagi siapa saja yang ingin belajar berdzikir, mencari ketenangan lahir dan batin, belajar mendekatkan diri kepada Alloh swt.

Semoga ada manfaatnya. Salam ILKADER!!!

Iklan

Dzikir Untuk Relaksasi Pikiran

LATHIFAH.jpg

(Sumber: http://algaylanie.blogspot.co.id/p/blog-page_23.html?m=1). Diakses pada tanggal 08 April 2018.

Pikiran melayang-layang tanpa arah dan tujuan. Akan sampai kemana? Dan dimana tempat berlabuh? Setelah berjam-jam tidak mendapatkannya, rasanya lelah sekali. Berat. Tetapi setelah mendapatkannya, diri ini menjadi tenang, lebih sehat, lebih segar dan lebih bugar pikirannya dari pada tiga jam yang lalu. Kekuatan bersujud dan menundukkan kepala sembari menyebut-nyebut asmanya dalam hati ini, amatlah luar biasa.

Urat syaraf menjadi kendur, kedipan mata menjadi lebih ringan. Detakan jantung stabil, ayunan nafas terasa seimbang. Syukur alhamdulillah, olehnya diri ini ditunjukkan ke jalan yang mudah untuk bisa berterima kasih pada sang maha kuasa dalam berbagai keadaan, dalam keadaan sempit maupun lapang. Dengan demikian, diri ini dapat merasakan lapang kendati dalam keadaan sempit. Semakin syukur, semakin lapang, semakin bahagia.

Semua itu dapat dirasakan setelah mengikuti serangkaian amaliyah fardhu beserta sunnahnya. Dzikir jahr beserta khofinya. Baru saja saya menunaikan sholat maghrib beserta sunnahnya. Ya, sholat berjama’ah bersama dengan teman saya. Setelah selesai, kemudian dilanjutkan dengan berdzikir jahr. Lalu khofi. Dan diteruskan dengan dzikir khotaman. Lalu dilanjutkan dengan amaliyah sholat sunnah. Ada sunnah ba’diyah magrib. Ada sholat awwabin. Ada sunnah taubat. Ada birrul walidain beserta do’anya. Ada sunnah lihifdzil imaan. Ada sunnah syukrun ni’mat. Dan sujud syukur.

Serangkaian amaliyah yang padat ini, selain memberikan keberkahan nanti di akhirat, juga memberikan manfaat bagi tubuh. Tubuh jadi lebih terasa segar. Pikiran yang tadi melayang-layang jadi tertata. Tenang. Dan, rileks. Ini semua adalah serangkaian amaliyah yang terdapat dalam kitab amaliyah mursyid. Dan kitab Menyambut Pecinta Kesucian Jiwa karya Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul ra qs. Selain untuk dibaca, semua amaliyah itu juga dapat kita amalkan sesuai dengan petunjuk dari beliau. Petunjuknya bisa didapatkan dengan cara belajar kepada beliau secara langsung. Alhamdulillah, setelah ini dilakukan, pikiran-pikiran berat tadi menjadi ringan dan bertambah relaksasi. Selamat mencoba ya sahabat!

Semoga ada manfaatnya. Salam ILKADER!!!

Kepuasan Lahir dan Batin di Jaman Milenial

hati.jpg

(Sumber: https://www.dakwatuna.com/2014/04/17/49825/hidupkan-hati-dengan-cahaya-hikmah/amp/) Diakses pada tanggal 08 April 2018.

Berbaring sembari menghadap ke langit-langit siang ini, membukakan ingatan saya pada masa lalu. Masa dimana saya juga berbaring terkulai lemas. Merasa ada ketakutan akan cita-cita yang telah saya gantungkan di langit sana. Apakah saya dapat menggapainya? Saya sebenarnya juga ingin bertanya tentang ini kepada Anda. Apakah Anda juga pernah mengalami perasaan seperti saya. Ya, ketika Anda punya cita-cita, tetapi kemudian di tengah perjalanan datang suatu pemikiran yang mencoba mengajak Anda memikirkan kembali cita-cita itu, apakah kesampaian atau tidak? Bagi saya, dan mungkin bagi Anda juga, hal itu cukup membuat galau. Ya, demikian itu tidak dapat dipungkiri. Hal ini karena kita memang manusia, yang dalam saat tertentu kita suka flashback. Alam bawah sadar kita sudah benar-benar merindukan kita segera bertemu dengan cita-cita itu. Ya, baik itu pasangan hidup, karir, kemapanan dan karya.

Namun demikian, kita tidak mau terhanyut dalam suasana kegalauan dalam setiap hari kita. Hari ini, kita yang kita butuhkan adalah solusi. Ya, solusi, untuk memastikan bahwa kita dapat menggapainya. Agar kita tidak takut lagi. Percaya diri. Dan agar jasmani dan rohani kita bisa sehat. Tidak tertekan oleh keraguan yang ingin selalu hinggap pada pikiran dan perasaan kita.

Pada kali ini saya ingin berbagi cerita lagi. Kita tahu, bahwa di jaman millenial sekarang ini, manusia ingin serba cepat dan instan dalam mendapatkan sesuatu. Caranya adalah dengan teknologi komunikasi dan transportasi. Teknologi komunikasi dan transportasi sudah menjadi bagian yang sukar di pisahkan dari kehidupan kita. Meskipun kita sendiri tidak punya umpamanya, jasa yang menawarkan hal tersebut juga sudah banyak dan bermacam-macam jenisnya. Alat komunikasi seperti handphone sudah melimpah dengan merek, harga dan kualitas yang bervariasi. Semakin tinggi kualitas, semakin tinggi harganya dan semakik puas kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Ya, kebutuhan kepuasan diri pada jaman millenial ini, begitu mudah didapatkan. Ya, bagi yang mampu mendapatkannya. Dengan alat komunikasi yang canggih maka kita bisa mengakses internet secara leluasa. Ini dapat menjadi fasiltas yang berharga bagi kita untuk percepatan mecapai cita-cita kita.

Begitu pula dengan alat transportasi. Pada jaman millenial ini, untuk di tingkat lokal di Jawa sudah banyak kendaraan pribadi yang bertransformasi menjadi jasa antar jemput. Biaya yang ditawarkan juga relatif murah. Proses pemesanan juga dapat diakses via telpon, chat yang ada dalam aplikasi jasa tersebut. Bisa itu Gojeg, Grab Car, Grab Bike, Go Car, dan lain-lain. Ini tak hanya mengantarkan individu seseorang pada suatu tempat, melainkan juga kebutuhannya yang lain biasa diantarkan. Seperti aneka macam makanan yang warungnya bekerja sama dengan jasa antar tersebut.

Dari realitas tersebut kita dapat mengetahui bahwa human satisfaction pada jaman now ini, sudah terfasilitasi dengan baik. Ini artinya, akses untuk menggapai cita-cita semakin terbuka lebar. Namun demikian, mengapa terkadang kita masih merasa gersang dengan keberadaan kemajuan semua itu? Keraguan, rasa tidak percaya diri, kekalahan, keterasingan dan ketertekanan masih saja ada dan selalu membayangi hidup kita. Bagaimana kita mengatasi hal tersebut?

Pada saat ini lah kita memerlukan bimbingan yang sifatnya batiniah atau ruhaniyah. Hal ini karena apa yang kita butuhkan, bukan selalu sifatnya kepuasan raga. Human satisfaction bukan selalu terpenuhinya kebutuhan fisik, aktualisasi dalam sosial, kecepatan dalam segala akses, melainkan juga kepuasan batiniyah atau ruhaniyah. Ya, karena mungkin dari beragam cita-cita yang kita kejar, masih ada lagi cita-cita yang tak mampu terjawab hanya dengan segala kemapanan lingkungan sekitar, melainkan juga dengan keyakinan, kesabaran kegigihan. Di sini lah ditemukan bahwa agama Islam memberikan solusi kepada kita untuk bisa mendapatkan dua sisi kepuasan tersebut, kepuasan lahir dan batin. Kepuasan lahir dicapai dengan segala kemajuan dan kemapanannya sedangkan batin dicapai dengan proses mendekatkan diri kepada Alloh dalam setiap saat.

 

Semoga bermanfaat. Salam ILKADER!!!

 

Santri Madrosah: Agen of Change Masyarakat

foto okezone.jpg

(Sumber: http://www.muslimedianews.com/2016/09/santri-sebagai-pemersatu-bangsa.html?m=1) Diakses pada tanggal 08 April 2018.

Malam ini adalah malam yang hampir sama suasananya seperti empat tahun yang lalu. Suatu malam dimana saya tidur sendirian di dalam madrosah. Madrosah menjadi tempat yang selalu strategis untuk menyendiri. Dahulu saya ingat, ketika teman-teman saya tengah asyik mengobrol atau pun bermain playstation (PS) di ruang atas, saya turun ke bawah, ke madrosah. Ya, untuk belajar. Tidak ajak-ajak teman. Sendirian saja. Membawa dua sampai tiga buku untuk dibaca. Setelah lelah tiba, kemudian tidur. Lalu bangun saat menjelang subuh. Ya, biasanya ada satu dua orang putri atau santriah yang masuk ke madrosah untuk menunaikan sholat tahajud. Dan saat mereka buka pintunya. Terdengar suara, “Kreek”. Saat-saat itu lah yang kadang membuat saya terperanjak, bangun cepat untuk ke kamar mandi. Sering kali mereka sudah bangun jam tiga dini hari. Luar biasa, bukan?

Di madrosah saya empat tahun yang lalu, demikian lah adanya. Kamar lelaki dan perempuan hanya berjarak paling jauh enam meter. Ya, dinding depannya saja. Dan hanya dipisahkan dengan satu tangga saja yang itu pun saling berhadapan. Artinya, keluar masuk mereka bisa diketahui. Kita yang santri juga sama. Tetapi demikian hebat dunia santri, meskipun begitu dekatnya jarak kamar, tetapi kami semua terjaga dan saling menjaga. Tak ada sama sekali tindakan yang melanggar asusila. Tak lain tak bukan karena kami diajarkan bagaimana bersikap kepada lawan jenis yang bukan mahromnya. Baik itu ditinjau dari sisi ilmu fiqh maupun tasawuf. Ini adalah tatakrama dari Rosululloh yang dilegasikan kepada umatnya sampai saat ini. Masih bisa terlestarikan oleh para ulama melalui karya-karya dan pengajaran mereka yang penuh dedikasi.

Madrosah yang saya maksud adalah madrosah Nurun-Ni’mah di Bandung. Ya, tempat dahulu saya belajar mengaji, pada periode 2011-2014. Di situ lah serangkaian pengalaman terjadi. Mulai dari pengalaman mengaji dengan gaya yang santai, melihat guru mengaji yang sangat enjoy, teman-teman yang saling pengertian, solidaritas yang tiada batas, serta kepedulian ketika dalam lapang dan susah. Malahan di situ pula sempat muncul aneka rasa, rasa sedih, suka ria, haru, bahkan cinta. Cinta yang datangnya tak diduga tak disangka. Satu kali tatapan membuat perasaan berdebar-debar sampai bertahun-tahun lamanya. Dan tetapi, tak berani lagi menatap untuk yang kedua kalinya. Karena, ketika hendak ditatap yang di sana hanya menundukkan keningnya saja. Apakah itu artinya?

Dan hebatnya, itu bisa terbayang hingga saat ini. Luar biasa. Singkatnya dunia pesantren secara lebih dekat jauh dari bayangan salah satu ilmuan dari Australia yang pernah bertugas mengajar di Indonesia, di ACICIS. Beliau adalah David Reeve. Penulis tentang kebudayaan kendaraan umum atau angkot di Sumatera ini, sempat bertanya pada saya tentang latar belakang pendikan saya. Saya jawab bahwa saya pernah belajar di pondok pesantren. Dan entahlah setelah saya mengatakan seperti itu, beliau menimpali dengan senyuman. ‘Oh, homo ya?…’ Mendengar jawaban seperti itu, saya akhirnya merenung. Mengapa beliau berkata seperti itu? Apakah tidak ada prior knowladge lagi selain tiga kata itu? Tetapi saya pun menyadari bahwa tampaknya beliau bukan orang dalam pesantren dan beliau juga tidak melakukan riset tentang pesantren secara serius. Harap maklum.

Kalau pun itu pernah terjadi, dan apabila ada, saya belum pernah menemukan data risetnya. Baik dari penelitian yang dilakukan para peneliti dari Barat atau pun dari Indonesia sendiri. Beberapa penulis masyhur, termasuk antropolog Prof. Martin van Bruinessen, Prof. Karel Steenbrink, Dr. Zamaksyari Dhofier, juga dalam karya-karya beliau tidak ada bahasan yang mengatakan tentang itu. Topik-topik yang mereka kedepankan justeru memperlihatkan bahwa pesantren adalah agen yang menjaga agar tindakan asusila tidak terjadi di Indonesia, baik lawan jenis atau pun sejenis. Pesantren adalah agen of change yang dapat mengencounter kegelisahan keimanan (faith anxiety) dan kesemerawutan moralitas (moral disorder) di tengah-tengah masyarakat. Di sana dihadirkan kegiatan-kegiatan pengajian, dzikir berjama’ah dan manaqiban yang semuanya dapat mengelola hati seseorang agar dapat mengendalikan diri dari melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan norma masyarakat.
Bagi saya, madrodah adalah rumah. Setengah usia hidup saya dihabiskan di tempat ini. Kalau Tan Malaka berpindah dari penjara ke penjara, saya dari madrosah ke madrosah. Atau dari pesantren ke pesantren. Tak hanya saya, Anda juga mungkin termasuk. Ya, ini adalah jalan hidup. Dalam hadist nabi dikatakan. Man salaka (dilanjutkan sampai akhir). Barang siapa yang melangkahkan kakinya ke suatu jalan, untuk mencari ilmu, maka ia akan dibukakan jalan ke surga. Ini bisa dimaknai dengan melangkahkan diri ke madrosah. Artinya, niat berangkat ke sana untuk belajar dan seperti dikatakan pak kyai yaitu untuk menghilangkan sifat kebodohan. Bukan untuk mendapat julukan kyai atau ustadz. Karena itu bukan tujuan, itu datang sendiri dari masyarakat.

Madrosah dilihat dari sejarahnya sudah lama eksis di Indonesia. Zamaksyari Dhofier dalam disertasinya berpendapat bahwa madrosah atau pesantren sudah ada di negara ini sejak abad ke-14. Tandanya adalah adanya padepokan yang menjadi tempat para santri belajar mengaji. Dahulu masih bercampur dengan tradisi Hindu-Budha baik dari arsitekturnya atau pun suasana sosialnya. Tetapi Martin van Bruinessen berbeda pendapat. Menurutnya madrosah baru ada di Indonesia pada abad ke-19, dalam pengertian madrosah yang bersistem pengajian seperti yang tampak pada saat ini. Keduanya benar. Hanya beda sudut pandang saja.

Pendapat Dhofier lebih melihat keberadaan madrosah dari akar-akarnya yang mana para pengembara, muballigh dari Timur Tengah dan Gujarat telah tiba di Indonesia pada abad ke-13. Bersatu dengan kerajaan dan mengajarkan ilmu agama di istana dan di lingkungan masyarakat. Sedangkan Martin, lebih melihat bangunan pesantrennya yang sudah ajek secara terpisah dari kerajaan dan berbeda simbolik bangunannya dari padepokan. Madrosah yang ditemukan Martin adalah madrosah seperti yang sering kita jumpai sekarang ini. Letaknya ada di Jawa Tengah.

Demikian sedikit cerita yang dapat saya bagikan. Semoga ada manfaatnya. Salam ILKADER!!!

 

Hidup Dialektis: Kisah Singkat Seorang Hipnoterapis

FB_IMG_15229985757858803.jpg

Duduk berselonjor sembari menghadap ke arah barat siang ini, memang terasa begitu berkesan, nikmat dan membukakan banyak sekali inspirasi. Sembari merasakan betapa kuasanya Alloh mengetuk hati orang-orang beriman untuk menunaikan ibadah sholat jum’at. Masuk ke masjid tanpa sekat status soal dan privilage. Bisa masuk lewat pintu mana saja. Ini lah sholat jum’at yang pelaksanaannya dilaksanakan satu minggu sekali. Bisa menjadi satu agenda besar kita, untuk mengontrol ibadah dalam satu minggu sekali. Karena ibadah secara beramai-ramai dapat membangkitkan ibadah yang sendirian, baik itu ibadah vertikal atau pun horisontal. Atau bahasa Arabnya, baik itu ibadah mahdzah atau ghair mahdzah.

Pun pula, ibadah jum’at ini dipandang dari sisi hipnoterapi, bisa disebut group therapy. Artinya terapi kelompok. Demikian kata sahabat sekaligus guru saya, ustadz Subhan. Beliau saat ini adalah kandidat doktor di UMY, departemen psikologi. Saat orang-orang masuk beramai-ramai ke dalam masjid. Duduk bersila dan diam. Mendaraskan al-qur’an serta berdzikir. Menundukkan kepala untuk bertawajjuh. Kita semua merasakan bahwa kita hidup tidak sendiri. Kita punya saudara. Dan utamanya, kita punya Alloh. Alloh oriented. Ini lah yang kemudian saya pernah dengar dari sahabat saya tadi dengan istilah hipnoterapi islami. Terapi hipnosis dengan menggunakan pendekatan Islami.

Ya, dalam suasana yang cerah ini, sudah tak sabar ingin berbagi cerita tentang seberkas kisah kehidupan sahabat saya tadi, saya suka menyapanya pak Subhan. Ayah berusia tiga puluh tahunan ini, tampak awet muda. Tidak merokok. Berwajah cerah dan bersih. Rajin bersedekah. Sholat awal waktu dan peduli pada lingkungan. Kini, telah dikarunia dua orang anak dari isterinya bernama bu Mira. Gadis dari tatar Sunda yang pada awalnya sebagai muridnya, tetapi menjadi pendamping hidupnya. Alloh memberikan yang terbaik. Awalnya, pak Subhan sudah hampir tak percaya diri untuk bisa menikah, karena sebelumnya gagal lagi-gagal lagi. Ditinggal pergi oleh perempuan-perempuan yang pernah ingin menjadi isterinya tetapi setelah melihat latar belakangnya, akhirnya tidak jadi karena tidak sesuai ekspektasi.

Dahulu, waktu masih muda, keluarga pak Subhan memang masih biasa-biasa saja. Orang bisa jadi memandangnya sebelah mata. Tetapi dari dalam diri pak Subhan sendiri tampak keseriusan dan rasa tanggung jawab. Dalam kamusnya, tak ada istilah pacaran. Semuanya ia jalani untuk orientasi hubungan yang sah menurut agama dan negara. Yaitu nikah. Tetapi hubungan yang ia jalani tak sampai benar-benar jadi kenyataan.

Keadaan tersebut ternyata ada hikmahnya. Beliau seperti terpanggil untuk melakukan perubahan mendasar pada keluarga. Ilmu yang telah dipelajarinya sejak masih kuliah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Beliau banyak beribadah dan rajin bekerja. Waktu masih kuliah, bahkan sejak SMA beliau sudah belajar kepada Abah Anom. Di sana beliau mendapatkan banyak pengalaman untuk memanajemen qolbu. Kekuatan langit, baginya, yang kemudian disebut Alloh oriented dengan berkat bimbingan guru beliau, mampu merubah kehidupan keluarga ke arah yang lebih baik.

Teori yang disukainya berkaitan dengan hal tersebut adalah teori cybernetic. Teori ini mempunyai ilustrasi seperti ini, bahwa satu titik dari kehidupan kita dapat tumbuh dan berkembang sampai besar dan tinggi, akan tetapi tetap berpijak dan kembali pada titik semula. Titik semula yang dimaksud oleh beliau adalah Alloh. Oleh karena itu, beliau sangat senang beribadah, berdzikir, dan berziarah ke makam para auliya, khususnya Abah Anom. Tak disangka, kerja keras, ta’dzim dan perjuangannya sejak di guru beliau membukakan jalan yang penuh dengan keberkahan.

Pada awalnya memang belum tampak. Setelah lulus kuliah, beliau baru dipertemukan dengan pekerjaan-pekerjaan yang memang bukan fasionnya. Beliau bekerja di pabrik gula di Lampung. Cukup lama. Pernah bekerja juga di percetakan. Dan, mencoba berjualan madu di Bandung. Tetapi, tampaknya, itu hanyalah sepenggal kisah dari rencana besar Alloh untuknya. Setelah mengalami masa-masa itu, beliau kemudian dapat bertemu dengan orang-orang besar. Beliau belajar hipnoterapi, yang kemudian dengan itu karir beliau mulia berkembang. Dan beliau bisa lanjut kuliah S2 di UNISBA di Bandung. Dan setelah lulus beliau kemudian mengajar di IAILM dan UIN Bandung.

Perubahan perjalanannya tampak cepat. Sembari menjalani karir di dunia akademiknya, loyalitas pada ulama tetap beliau jaga. Beliau tetap konsisten berdakwah. Misalnya menemani perjalanan dakwah Syeikh Muhammad Abdul Gaos (Abah Aos) waktu menjadi wakil talqin Abah Anom. Ya, beliau adalah dosennya. Perjalanan panjang bersama Abah Aos, sama seperti Abah Anom, mengantarkan pak Subhan menemukan berbagai jalan kemudahan. Keluarga menjadi terangkat harkat dan martabatnya, dan semua adik-adiknya. Bahkan menurutnya, suatu hal yang di luar dugaannya, ia bisa melanjutkan studi S3 dan mendapatkan beasiswa 5000 doktor dari Kemenag.

Pada suatu kesempatan beliau langsung mendengar dari lisan Abah Aos, bahwa beliau juga harus jadi doktor. Dan kata-kata dari beliau itu menjadi kenyataan. Ya, itu adalah do’a karena beliau adalah seseorang yang punya andil besar dalam dakwah Abah Aos, seperti salah satunya adalah mendirikan kampus STID Sirnarasa. Saat ini, beliau menekuni hipnoterapi dengan keahlian hipnoterapi Ericksonian. Tidak hanya pakar dalam bidang keilmuan, beliau juga pakar dalam praktik yang sudah banyak pengalaman di lapangan.

Sejak sepuluh tahun terakhir beliau sudah bergelut dalam bidang tersebut dan mengantarkan dirinya sampai pada tingkat master atau advanced. Beliau juga termasuk pendiri shopische therapy yang berada di Bandung. Saat ini, beliau tengah mengisi kiprahnya dalam bidang akademik dan bisnis serta menorehkan karya-karya tulis dalam mengembangkan hipnoterapi Islami di Indonesia. Kata beliau yang selalu menjadi prinsip adalah tentang halal haram. Baginya itu sangat fundamental. Dari situ rejeki berkah datang. Dan halal haram itu, kata beliau, sebagaimana kata guru beliau, pak Ahdi, bayyinun. Jelas. Dan satu lagi, primer-sekunder. Jadi kata beliau, dalam hidup, agar seimbang, harus mempergatikan mana yang primer mana yang sesekunder. Primer harus didahulukan, dan sekunder dibelakangkan.

Demikian kisah yang dapat saya ceritakan. Pelajaran yang dapat kita petik adalah bahwa hidup adalah dialektis dan dinamis. Kadang di bawah, kadang di atas. Tapi kita hidup tidak sendiri. Ada Alloh dan rasulnya. Kita bisa berubah lebih baik lagi dengan bergantung kepada-Nya.

Semoga bermanfaat. Salam ILKADER!!!

Syndrom Anxiety: Ujian Sebelum Ujian

FB_IMG_15229811940192132.jpg

Pagi ini adalah pagi yang sehat. Mengapa? Karena pagi ini, saya sudah berolahraga. Keringat mengucur deras. Mulai dari menyapu halaman. Menggali keringat dengan mengingat kembali gerakan silat Cimande yang pernah saya pelajari lima tahun yang lalu. Lalu, push up, angkat barbel, dan kemudian meditasi ala hipnoterapi sembari dikombinasi dengan dzikrulloh. Ternyata, ini dapat membuat perasan saya jadi lebih fresh dan relaksasi.

Bagaimana dengan Anda? Anda harus mencobanya!. Ya, kebiasaan baik ini, insya Alloh akan berguna ketika kita menghadapi shock. Shock pada saat kita berhadapan dengan sesuatu yang datang tiba-tiba. Padahal, sesuatu itu sudah kita dambakan sejak lama. Hanya mungkin saja kita belum siap. Dengan berlatih mengelola perasaan, olah raga lahir dan batin insya Alloh kita terbiasa menghadapi kejutan.

Berikut ini adalah kisah salah satu teman saya. Dalam hal ini, ia tidak mengatasi negatif kejutan yang datang dengan olahraga. Tapi dengan berbagi cerita. Dia adalah teman dahulu waktu masih kuliah. Sebut saja Ardha. Mahasiswa angkatan 2014. Berasal dari Kediri. Dia adalah mahasiswa berprestasi. Dia tipikal mahasiswa out of the box, struggle dan pembelajar. Latar belakang finansial keluarga membuatnya hidup struggle dan tingkat kepercaya diri nya yang tinggi membuatnya terbiasa belajar out of the box. Tidak terbiasa banyak membaca tetapi selalu punya banyak ide-ide kreatif. Dia adalah girl detective. Selain aktif bertanya di kelas, dia punya kegiatan super sibuk. Sejak awal-awal semester, dia sudah melamar bekerja di INCLUS, UGM, dia juga aktif mengajar private dan mempunyai kegiatan ekstrakurikuler yang cukup padat. Hobinya seperti lelaki. Playing football.

Ardha juga adalah mahasiswa penerima beasiswa bidikmissi. Dan seingat saya, IP nya saat kuliah awal-awal, bahkan waktu saya lulus, masih cumlaude. Dia bisa bertahan. Dalam kebanyakan update statusnya, dia selalu bangun pagi hari. Karena, hampir setiap pagi dia kuliah. Dan kalau libur, membuat masakan-masakan bersama Mbak Kosnya. Dia juga punya banyak kenalan orang asing, Inggris, America, Australia, Cina, Singapura, Belanda, dll. Ini karena intensitasnya berada di Inclus sebagai pengajar. Tak disangka-sangka, jerih payahnya berkuliah sembari bekerja itu, membuat karir akademiknya di strata satu ini melejit. Dia mendaftar kegiatan-kegiatan yang berorienasi study obroad. Suka membagi-bagikan link info beasiswa pada teman-temannya. Dan tiba gilirannya dia terpilih menjadi mahasiswa perwakilan UGM dan FIB untuk studi banding di Thammasat University di Thailand. Beritanya diumumkan baik di berita tingkat fakultas ataupun universitas.

Ini adalah torehan Ardha yang terbaik untuk dipersembahkan kepada kampus, negara republik Indonesia yang telah memfasilitasi beasiswa, juga pemerintah kota Kediri, spesialnya untuk kedua orang tuanya yang penuh perhatian padanya selama ini. Ya, singkatnya Ardha adalah mahasiswa yang senang dengan agenda futuristik. Sampai dia kemudian dapat kesempatan untuk ikut lagi ke luar negeri. Ke Vietnam. Tapi ternyata, saat ia menanyakan soal itu kepada jurusan, tiba salah satu dosennya berkata. Kapan kamu lulusnya? Tak disangka, usia beasiswanya sudah hampir habis. Tinggal satu semester lagi. Dan, sejak itu lah ia terperanjak. Ardha akhirnya terpaksa fokus menggarap skripsi. Rubah haluan.

Sebenarnya, topik skripsinya tentang sejarah kesehatan, spesifiknya sejarah penyakit TBC di Yogyakarta pada masa Orde Baru, sudah dikerjakan olehnya di semester tiga. Artinya dia sudah punya bekal prior knowladge. Hanya saja kencenderungannya akan menggali karir di luar kelas sangat dominan sehingga penelitiannya itu sedikit terbengkalai. Dan keadaan itu tampaknya tidak mudah untuk bisa bangkit lagi. Hal ini karena ia terkondisikan dalam suatu keadaan yang seolah-olah tidak mendukung penelitiannya. Ya, di agenda skripsinya ini, ia bertemu dengan dosen pembimbing yang sebenarnya sudah pernah membimbingnya sejak masih SMA. Seharusnya itu bisa powerfull dan mindfullness.

Tetapi kenyatannya tidak demikian. Ardha, merasa kesulitan mendapatkan akses diskusi dengan pembimbingya tersebut. Proposal yang telah disampaikan padanya menurutnya tidak mendapatkan respon yang hangat. Dalam hal ini berupa feedback, agar ia terpacu untuk bisa menulis lebih baik lagi. Dan ia terus menunggu agar feedback itu ada, tetap juga tidak ada. Padahal sudah menunggu sampai tiga bulan. Ya, kecuali hanya feedback yang sifatnya teknis. Padahal, Ardha punya ekpektasi supaya pembimbingnya mau memberikan koreksi yang sifatnya substansi. Mendapatkan kenyataan tersebut Ardha tidak bisa apa-apa. Akhirnya sembari penasaran ingin tahu bagaimana skripsinya di mata orang lain, ia ikut bersama temannya. Ya, ia ikut meminta agar skripsinya dinilai, diberi feedback, tetapi sayangya, bagian Ardha tidak pas. Malah dikatakan skripsinya tidak bagus. Harus banyak yang diperbaiki. Sementara temannya disanjung-sanjung. Ardha menjadi low self-esteem. Low self-confidence.

Namun yang membuat Ardha heran, setelah skripsinya selesai, dia ternyata dapat masuk ujian sidang yang pertama. Dan dia sudah dijadwalkan oleh jurusan. Pembimbingnya sudah mendaftarkan Ardha untuk maju. Melihat kenyataan tersebut, ia tak percaya. Dia belum siap sidang. Padahal ini lah yang didambakannya. Bab tiga sampai akhir belum diberi feedback, kecuali hanya teknis penulisannya. Dia harus segera buat power point. Waktu hanya sisa empat hari lagi. Akhirnya dia galau. Namun, dia belum menyadari bahwa sebenarnya dirinya sedang terbawa dalam suasana shocktherapy. Oleh karena itu, masih bisa difasilitasi dengan meningkatkan self-confidence agar percaya diri bisa maju untuk sidang.

Siang hari, dia berikhtiar untuk menggali rasa percaya dirinya lagi. Dia mengirim pesan pada saya. Katanya, ia ingin berguru. Lalu saya jawab. Saya bukan guru Ardha. Kalau untuk sekedar sharing aja, mari. Kemudian dia menghampiri saya di perpustakaan pedesaan. Dan benar. Saat saya ingin melihat skripsinya yang hardfile, ia tidak membawanya. Itu artinya, yang ia butuhkan bukan lah masukan teknis, melainkan support agar rasa percaya dirinya bisa bangkit lagi. Titik persoalannya tampaknya terletak pada rasa minder. Ya, ia minder melihat temannya yang dikatakan skripsinya sudah bagus setingkat disertasi. Alam bawah sadarnya ternyata mengejar itu dan berekspektasi ingin seperti itu. Ini lah yang memicu Ardha mengalami syndrom anxiety.

Ya, ketika dibandingkan dengan skripsinya yang belum mendapat feedback tetapi telah masuk dalam daftar ujian sidang. Ardha kemudian ingin agar keresahannya pulih lagi. Alhamdulillahnya dia terbuka. Setelah tahu bahwa yang membuat dirinya resah adalah karena melihat sempurnanya karya orang lain, maka dalam diskusi sore itu, ia didukung untuk melihat torehan prestasinya di bidang lain. Seperti bisa ke luar negeri, sudah pernah bimbingan sejak lama dengan pembimbing skripsinya, dan terkenal juga sebagai mahasiswa aktif di kelas, jam terbang public speaking yang bagus dan kumunikasi interpersonal yang bagus juga. Mungkin karena faktor semua itu telah membawanya pada area bebas feedback subtansi untuk sekedar skripsi. Dan ternyata, ia menyadarinya.

Bahkan ia pun akhirnya menambahkan bahwa sejak berlangsungnya riset, ia telah banyak membantu pembimbingnya, dalam risetnya, dan pembimbingnya juga memberikan akses untuk Ardha dalam mendapatkan data dengan mudah. Bagian ini lah yang akhirnya mungkin sudah dipandang sebagai sebuah karya nyata riset oleh pembimbingnya sebelum akhirnya menjadi satu bundel halaman penuh yaitu skripsi. Dari situ lah mungkin beliau memandang; artinya beliau sudah mengetahui perkembangan Ardha dari awal, sehingga skripsinya benar-benar dimudahkan dengan tanpa banyak feedback.

Demikian kisah di atas, pelajaran yang dapat kita petik adalah bahwa masing-masing dari kita punya potensi yang berbeda-beda. Tak perlu mengejar ekspektasi kesempurnaan yang terdapat pada orang lain. Karena dalam diri kita juga terdapat kesempurnaan itu, yang tidak orang lain punya. Dalam diri kita ada mutiara, dan masing-masing kita adalah mutiara, yang sebagian di antara kita ada yang sudah tampak dan mungkin ada yang masih terpendam. Tapi kita tak perlu khawatir. Insya Alloh masih ada kesempatan buat kita.

Semoga bermanfaat. Salam ILKADER!!!

Membuat Skripsi: Malah Cocok Jadi Disertasi

FB_IMG_15229811372783197.jpg

Pagi ini adalah pagi yang menginspirasi. Ya, karena pada pagi ini saya teringat curhatan teman saya tiga hari yang lalu. Sebut saja, Acha. Mahasiswa angkatan 2014. Perempuan asal Jakarta. Berdarah campuran Aceh dan Minangkabau. Dia curhat bahwa dia ternyata mampu membuat skripsi yang selama ini dia berpikir tidak mampu. Minder. Bahkan tak percaya bahwa dalam dirinya ada kekuatan besar untuk menulis, apalagi hanya sekedar skripsi. Dia bahagia sekali karena skripsi yang telah dikerjakannya melampaui kualitas yang dibayangkannya. Kata dosen pembimbingnya, skripsi yang telah dikerkakannya sangat bagus dan malah selevel dengan disertasi. Karena itu pula, skripsinya itu sangat lah layak untuk dijadikan sebuah buku. Kalau sudah begitu, itu apa artinya? Tidak ada lagi ketakutan untuk sidang. Dan percaya bahwa dalam dirinya sebenarnya ada minat, bakat, talenta untuk menulis. Hanya saja ia beranggapan bahwasannya ia tak mampu. Tetapi setelah bekerja keras, ia pun menyadari bahwa ia sebenarnya mampu. Ini lah yang pernah saya dengar dalam hipnoterapi disebut sebagai mental block. Artinya dalam diri kita ada semacam tirai yang menutup-nutupi rasa percaya diri kita sehingga kita merasa tidak mampu untuk misalnya, menulis. Padahal, kita mempunyai semangat untuk hal itu. Dan kita memilih kuliah di departemen yang suka bergelut dengan lautan teks. Artinya, kalau kita merasa tidak mampu, ada masalah mental block dalam diri kita. Lalu apa yang menjadikan mental block itu terjadi?

Berikut ini alasannya. Ya, karena berada di bawah bayang-bayang suatu lingkungan yang pesimis. Lingkungan kuliah Acha sebenarnya adalah lingkungan kuliah yang hebat. Dia kuliah di universitas ternama di Indonesia. Berada di departemen yang juga ternama, karena termasuk departemen yang pertama didirikan. Awalnya Acha percaya diri saat masuk arena tersebut, dengan bakat, minat dan idealisnya pada waktu masih SMA.Tetapi entah mengapa setelah di sana justeru Acha menjadi minder. Apalagi setelah memasuki pelajaran menulis. Dan hampir setiap mata kuliah, selalu ada tugas menulis. Tidak banyak, hanya selembar sampai empat lembar saja. Tetapi di situ lah pelajaran baru didapatkan Acha yang sampai akhir kuliah selalu terbayang-bayang. Apakah itu? Plagiarism.

Sejak saat itu, hasrat menulis menjadi berubah. Di satu sisi dipandang kewajiban, di sisi lain selalu ada ketakutan, kecemasan dan kegelisahan bahwa karyanya itu takut plagiat. Malah suatu kejadian amat fatal pernah terjadi yang akhirnya secara paksa menggiring opini kebanyakan mahasiswa seangkatannya untuk hati-hati sekali dalam menulis. Dan akhirnya malah membuat sebagian besar mereka terpendam dalam ketakutan membuat karya tulis. Ya, itu terjadi setelah nilai salah satu mata kuliah mereka ditahan dosen karena dipandang plagiat, tak keluar kira-kira selama dua tahun. Ini sempat menimbulkan rasa malu berkepanjangan, memasukkan diri mereka pada arena low self-esteem dan low self-confidence.

Kendati sudah diberikan pelatihan-pelatihan khusus dengan diterjunkannya para tutor menulis, tetapi kreatifitas, rasa percaya diri dan kebahagiaan dalam proses menulis mereka sudah terisi pengalaman yang cukup berat. Sehingga daya tahan mereka untuk menulis menjadi lemah. Lama-lama itu menjadi block mental mereka dalam menulis. Ini bisa hilang bilamana mereka mau mendobrak opini banyak orang yang takut plagiat dengan membuat karya tanpa plagiat. Dan Acha berhasil. Ini lah ekspresi kebahagiannya.

“Den, aku mau ceritaaa hahahaha jadi tadi aku bimbingan scr keseluruhan skripsiku sm mas Abi. Dan tadi aku terharu bgt krn mas Abi muji2 skripsiku, harusnya jd disertasi, dan layak sekali dibukukan.
Jadi inget Deni dan kak Aslam yg skripsinya bagus sekali utk dibukukan. Wkt kalian punya rencana begitu aku mah cm bisa mendukung dan mendoakan semoga tercapai, tp alhamdulillah hari ini permintaan itu keluar dari mulut DPSku sendiri. Aku bener2 terharu banget tadi tuh deeeeen. Ya Allah ternyata aku bisa ya…
Aku juga pingin Den bisa nerbitin buku spt yg Deni dan kak Aslam ceritakan. Aku jadi yakin sm diriku sendiri. Doakan ya deeen😁”

Tidak hanya berhasil mendobrak dominasi opini plagiat, Acha juga berhasil menjauhkan diri dari membaur secara mendalam dengan lautan teks yang sudah digarap ilmuan besar. Dia memilih arenanya sendiri dimana dia bisa bereksplorasi tanpa ada rasa takut, cemas, tak percaya diri di bawah bayang-bayang karya ilmuan besar. Suatu saat dia perlu melihatnya hanya sekedar untuk mencari inspirasi dan kebenaran. Bukan menjadikannya idola habis-habisan tetapi akhirnya dirinya hilang di tengah kebesaran sang penulis handal. Ya, hilang dalam hanyut memuja-memuji ide gagasan mereka sehingga dirinya menjadi lupa untuk menulis, menjadi merasa tak mampu karena berada di bawah bayang-bayang mereka.

Dia lebih memilih masuk dalam arena kerja cepat, dengan cara mencari bahasan primer atau mencari literasi yang sesuai dengan yang dibutuhkan, bukan yang diingankan. Menghemat anggaran untuk tidak membeli buku-buku tebal dengan mengalokasikannya pada pencarian sumber primer, data-data penting yang dapat menjawab masalah-masalah dalam skripsinya. Dan tidak sampai dua bulan, setelah siasat mengindari opini pesimis di lingkungan sekitarnya, ia pun akhirnya bisa maju ujian sidang. Dan dia akan menjadi salah satu perwakilan angkatannya yang berani mengatakan saya mampu untuk menulis skripsi!

Demikian cerita yang dapat saya bagikan, pelajaran yang dapat kita petik adalah bahwa mental block dalam diri kita, yang membuat kita menjadi merasa tidak mampu, tidak percaya diri, bisa kita dobrak dengan bekerja keras membuat sebuah karya nyata, sampai akhirnya percaya diri mengatakan, ‘Oh ternyata saya juga mampu’.

Semoga bermanfaat. Salam ILKADER.

Sedekah: Akhlak Mulia Untuk Cepat Lulus Kuliah

Obati-sakitmu-dengan-sedekah

Suasana perpustakaan pedesaan sore ini, sama seperti suasana dua tahun yang lalu. Sama juga seperti satu tahun yang lalu, dan sama seperti satu hari yang lalu. Perpusnya sepi. Sunyi. Hanya terdengar suara hembusan kipas angin yang mengipasi sebagian ruangan di perpustakaan ini. Nyaris perpustakaan ini seperti rumah kosong yang megah dengan hanya satu penjaga rumah saja. Besar, tetapi sedikit penghuninya. Dari luar tampak wibawanya bagaimana rumah ini dibangun tetapi dari dalam, orang enggan berlama-lama di sini.

Apakah ini karena minat baca lebih dominan dari pada daya baca kita? Apakah ini terjadi dengan semua perpustakaan di Indonesia? Kita berharap ini jangan sampai terjadi. Karena baru saja saya melihat video pidato Gubernur Jakarta, pak Anis Baswedan yang tersebar di Whatsap. Beliau menyampaikan pentingnya kesadaran kita memperkuat literasi di jaman sekarang untuk menyongsong masa yang akan datang. Masa yang kata beliau identitas pekerjaan sudah tidak lagi penting melainkan apa yang bisa perbuat untuk memenuhi kebutuhannya. Bukan lagi mau menjadi apa nanti tetapi mau apa yang akan kita buat nanti. Ya, sekali lagi, bukan identitas pekerjaan yang nanti akan memberikan jaminan pada kita, melainkan kemampuan kita dalam bekerja, kreatifitas dan daya literasi yang tinggi. Tidak hanya itu, bahkan yang pertama kali harus dibangun oleh kita kata pak Anis adalah pendidikan karakter atau akhlak, yang dalam hal ini, sekolah dan rumah mempunyai peranan penting untuk mengelola itu semua secara optimal.

Berdasarkan poin yang disebutkan pak Anis tadi dalam tulisan ini saya ingin sedikit berbagi cerita tentang akhlak. Akhlak sangat lah penting bagi kita untuk mencapai kesuksesan, kebahagiaan, ketenangan, kemapanan dan kebebasan finansial. Akhlak yang baik akan dapat membukakan jalan kepada seseorang untuk mencapai tujuannya, walaupun sebelumnya apa yang ditujunya dipandang tak mungkin diwujudkan. Akhlak adalah agenda besar nabi Muhammad diturunkan ke alam dunia. Dalam haditsnya, beliau menyampaikan bahwa “sesungguhnya Aku diutus karena untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. Begitu spesialnya akhlak di mata nabi. Ini artinya, akhlak sangat berpotensi menunjang kesuksesan seseorang. Dia bersifat fundamental yang kemudian harus dipupuk agar terus ada.

Salah satu bentuk akhlak mulia adalah bersedekah. Sedekah dapat membukakan jalan untuk kelulusan, kesuksesan dan rasa percaya diri. Sudah banyak orang sukses dengan mengaktifkan potensi sedekah ini. Ulama seperti Yusuf Mansur dan Aa Gym, yang familiar dengan kuot sedekahnya juga membuktikan hal tersebut. Dan kemudian banyak orang dapat merasakan manfaatnya. Dampaknya, tidak hanya dapat meningkatkan kepedulian sosial pada sesama insan, tetapi juga meningkatkan amal jariyah kita di akherat. Motivator masyhur, Ipho Santosa malah memandang bahwa sedekah sebagai investasi. Kata investasi ini punya makna bahwa yang kita keluarkan tidak lah hilang, melainkan tetap tersimpan yang suatu waktu bisa kembali lagi kepada kita, bahkan dengan ukuran lebih besar. Artinya dapat bonus. Bonus ini lah yang kemudian sering disebut sedekah mengundang keberkahan dan keberlimpahan.

Masih berhubungan dengan akhlak bersedekah adalah kisah salah satu mahasiswa di Yogyakarta. Sebut saja Rafi. Dia mahasiswa biasa-biasa saja, yang siang harinya belajar dan malam harinya bekerja. Di kelasnya tidak terlalu aktif namun kemudian bisa menjadi lulusan tercepat di antara angkatannya. Dia lulus tiga tahun setengah. Bagi sebagian orang, itu biasa saja. Akan tetapi bagi sebagian yang lain itu bisa menjadi luar biasa. Karena hal seperti itu jarang terjadi di jurusannya. Terlebih lagi bagi dirinya yang berpikir bahwa itu mustahil terjadi.

Tapi ia punya keyakinan bahwa untuk bisa lulus dengan cepat itu, tak cukup hanya bermodalkan ketekunan belajar. Melainkan perlu juga kerelaan berbagi dengan orang lain. Baik itu ilmu, uang atau pun jasa. Dengan begitu, mungkin juga bisa cepat dan lancar. Awalnya ia kurang begitu yakin dengan cara seperti itu, akan tetapi setelah melakukannya, ia menjadi percaya. Dan berikutnya ia terus berusaha menjaganya agar tetap istiqomah. Sesuatu yang dia lakukan bukan lah sedekah besar, melainkan hanya dua saset susu, terkadang kopi dan milo setiap mengadakan bimbingan dengan dosen pembimbing skripsi.

Awalnya dosen tidak mau menerimanya karena gengsi, tetapi kemudian dia menerimanya karena yang diberikan adalah bentuk terima kasih dari mahasiswa bimbingannya. Meski kecil, sedikit, murah tetapi bernilai. Dan dosen pun terkesan. Padahal, dosen itu terkenal dengan susahnya kalau membimbing. Tetapi dosen pun manusia, yang punya perasaan ingin dihargai, dihormati. Sejak itu hubungan komunikasi bimbingan skripsi menjadi lancar. Cerah. Dan membawa semangat. Artinya sedekah bisa menjadi kendaraan kita di masa sulit, saat sedang keadaan sulit, sedekah bisa membukakannya.

Mungkin itu adalah aplikasi akhlak dari mahasiswa yang sifatnya junior, di bawah secara kedudukannya, kepada dosen yang sudah tinggi dan banyak pengalaman. Tetapi dalam konteks pendidikan, terkadang ada peraturan dilarang memberi bingkisan kepada dosen saat hendak ujian sidang. Maksudnya, bingkisan itu terlanjur dipandang sebagai ‘sogokan’ agar dosen mempermudah ujiannya. Ini tidak diperkanankan agar menjaga objektifitas. Ini berlaku bagi sebagian departemen. Termasuk departemen Rafi. Tetapi Rafi memandang bahwa memberi bingkisan pada saat menjelang ujian tidak lah salah, karena sedekah tidak memandang waktu. Tetapi ketika itu dihadapkan dengan peraturan, tidak boleh beri bingkisan, itu artinya kesempatan sedekah, agar jalan terbuka menjadi hilang.

Nah, di situlah menurut Rafi perlu ada siasat sehat. Bahwa sedekahnya agar tidak dikira ‘menyogok’ dilakukan jauh-jauh hari yang bertujuan agar proses belajar antara ia dan dosen pembimbing bisa menyenangkan. Kalau hati sudah senang, insya Alloh kesulitan akan hilang. Bahkan jangankan kesulitan tugas, Syeikh Muhammad Abdul Gaos mengatakan bahwa sedekah juga bisa menyembuhkan penyakit yang berdasarkan sabda nabi Muhammad saw, “daawwuu mardhookum bishshodaqoh”. Obati sakit kalian dengan sedekah.

Demikian uraian di atas, dapat diketahui bahwa untuk mendapatkan kebahagian, kesuksesan, kelulusan, akhlak adalah salah satunya yang paling utama. Salah satu bentuknya adalah sedekah. Dengan sedekah, kesulitan bisa ditangani dan keberkahan, keberlimpahan bisa didapatkan.

Semoga bermanfaat. Salam ILKADER!!!

Jaman Milenial Jaman Online

Millennials_2

(Sumber: https://m.teen.co.id/read/5772/benarkah-generasi-millennial-hobi-beli-barang-mewah-hanya-demi-pamer-dan-status-sosial#) Diakses pada 05 April 2018

Seorang sahabat mengirim pesan pada saya supaya saya mencari informasi tentang jaman milenial. Ya, istilah yang belakangan ini sangat populer di telinga kita. Alhamdulillah nya informasi itu berhasil saya dapatkan. Tak lain tak bukan karena ini jaman sudah jaman milenial, segala informasi sangat mudah didapatkan. Jaman milenial sebenarnya bukan lah hal yang baru.

Dilihat dari sejarahnya, jaman milenial atau disebut jaman Y, yang diidentikan dengan abad ke-21 bukan lah jaman yang tiba-tiba ada. Jaman ini adalah jaman kelanjutan jaman sebelumnya. Dia adalah seutas tali dari tali sejarah yang merentang jauh di belakang. Namun entah mengapa jaman ini tampaknya terkadang dipadang sebagai jaman yang baru. New age. Jaman yang berbeda dari jaman sebelumnya.

Mungkin karena teknologi canggihnya. Dengan segala perkembangan teknologi canggihnya, orang-orang jaman milenial ini dikondisikan dalam suatu keadaan sesuai teknologi tersebut. Misalnya saat di suatu kafe atau resto ada wifi, di situlah pengunjung paling banyak. Tapi belum tentu mereka saling berinteraksi. Mereka bisa jadi hanya saling diam dengan gadjetnya. Saat di handphone ada alat untuk selfie di situ lah orang bisa foto sendiri dan bawa teman-temannya. Saat di whatsap ada ruang untuk update status di situ lah orang bisa mengeksplor segala aktifitasnya. Active. Show up. Branding.

Mungkin itu lah yang terjadi di jaman milenial ini. Setiap orang bisa dengan mudah show up, active dan branding siapa dirinya ke dunia virtualnya. Dan tampaknya whatsap menjadi aplikasi yang lebih mudah untuk show up, active, branding dari pada facebook atau line. Mungkin karena percepatan itulah jaman sekarang disebut jaman mileneal. Suatu jaman free show up. Free action. Free branding. Free active. Suatu jaman yang tentu saja berbeda dengan jaman sebelumnya, yang mungkin tidak sebebas saat ini.

Tetapi gagasan jaman milenial sebagai jaman teknologi canggih, kebebasan dan pertunjukan bukan lah hal yang baru. Di Indonesia, teknologi canggih sudah berkembang sejak jaman kolonial, ide gagasan kebebasan sudah muncul disertasi ide gagasan liberasi atau pembebasan dari kolonialisme pada abad ke-19. Ide gagasan pertunjukan muncul dari komunitas-komunitas di panggung drama. Tetapi pada jaman milenial sebelumnya, karakteristiknya tidak lah seperti milenial saat ini. Saat ini lebih free, terbuka, dan individual. Namun demikian karakteristik tersebut tidak terjadi begitu saja. Iklim politik dan ideologi suatu negara juga sangat menentukan seperti apa bentuk atau model jaman milenial.

Apakah negara dapat membendung arus jaman milenial? Tampaknya arus ini tidak dapat dibendung karena bahan pokoknya yaitu networking sudah berkembang di Eropa dan Amerika sejak abad ke-19 dengan globalisasi sebagai tandanya, jejaring internet sebagai kendarannya. Dan kemudian itu semua berpengaruh pada tatanan dunia ketiga termasuk Indonesia dalam tatanan sosial, politik, ekonomi dan budaya.

Ya, pada abad ke-21 ini, perubahan-perubahan berskala super besar dan perkembangan supercepat mungkin saja terjadi. Bayangkan saja, betapa satu handphone jaman milenial ini bisa menyimpan ribuan file dengan kapasitas yang besar. Dan ini dapat mengubah dunia fisik menjadi non-fisik. Dalam konteks pendidikan buku-buku sudah bisa didigitalisasi. Yang biasanya bertumpuk di rak besar bisa diperkecil dalam bungkusan file-file di handphone atau pun laptop. Dan bisa dicari dengan sangat cepat dengan hanya mengetik beberapa huruf dari alfabet.

Tentu saja, ini dapat merubah tatanan sosial. Dalam konteks pendidikan, bisa mengubah pola belajar orang jaman now ini. Artinya berbeda dengan pola belajar orang jaman dahulu. Setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir bisa terlihat perubahannya. Luar biasa cepat. Tapi dalam suatu kerumunan di mana kita dapat melihat setiap orang membuka gadjetnya, apa yang tengah mereka lakukan? Tak gampang kita menerkanya. Ya, karena ini jaman milenial. Kecuali kita sama-sama online.

Semoga bermanfaat. Salam ILKADER!!!

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑